|
|
| SKB Hemat Energi untuk Bisnis Lebih Tepat Ketimbang Industri |
| Senin, 28 Juli 2008 | |
|
JAKARTA--MI: Langkah pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Jilid II tentang penghematan energi untuk sektor bisnis, perhotelan, dan perkantoran, dinilai lebih tepat.
Hal itu inilai tepat karena jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan memotong jatah industri. Apalagi, sektor tersebut memang boros energi. Menurut ekonom Faisal Basri menjawab pertanyaan Media Indonesia, akhir pekan lalu, rencana SKB Jilid II untuk bisnis merupakan langkah maju yang dilakukan pemerintah. "Itu langkah maju, daripada membatasi sektor produktif seperti industri yang meng-create Tenaga Kerja, penerimaan negara dari ekspor," jelasnya. Sebab, ujarnya, yang harus diprioritaskan untuk melakukan penghematan memang kegiatan-kegiatan yang boros. Sektor tersebut antara lain pusat perbelanjaan, pusat hiburan, perhotelan, kantor-kantor pemerintahan, dan kantor-kantor swasta yang mewah. "Jadi penghematan yang sifatnya mengurangi kenikmatan," tandasnya. Faisal mengatakan, pemerintah jangan sampai lagi menambah beban sektor yang sedang sakit. Ia menilai industri saat ini sudah menderita dan dipastikan sudah melakukan penghematan semampunya tanpa dipaksa. "Kalau memang ada industri yang tidak efisien, ya harus ada pembatasan secara lugas, kuantitatif atau naikkan saja tarifnya. Tapi, jangan sampai membatasi seluruh industri," paparnya. Apalagi, katanya, masalah kelistrikan saat ini sebenarnya hanya di beban puncak. Pada saat beban puncak PLN hanya memiliki cadangan terbatas, sedangkan konsumsi sudah hampir mendekati maksimum daya PLN. "Oleh karena itu membatasinya sederhana, misal di Jakarta setiap Senin dan Rabu mal hanya boleh buka sampai setengah lima sore. Tapi, nanti Sabtu-Minggu boleh sampai pagi," imbuhnya. Terkait SKB Jilid II, Direktur PLN Jawa, Madura, Bali (Jamali) Murtaqi Syamsudin menjelaskan ide dasarnya adalah untuk membagi beban ke semua sektor, tidak hanya industri. Industri sendiri sudah ada penghematan melalui pergeseran jam operasi (load shif). Di disnis dilakukan skema berbeda, yakni pemotongan beban puncak. "Kita sebutnya peak cutting, menghemat pemakaian atau memakai genset saat beban puncak," tandasnya.(Pia/OL-01) Penulis : Sopia Siregar - MediaIndonesia.com |
| < Prev | Next > |
|---|